Makalah

MAKALAH

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Teknologi Pendidikan

DOSEN PENGAMPU Saifurrohman, S.Ag., M.Pd.

inisnu

DISUSUN OLEH :

1. M. Ni’amir Rohman

2. Asfihana

3. Aulia Hana

4. Nur Rif’atun

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’

JEPARA 2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Komunikasi dalam suatu pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting, yang tidak mungkin ditinggalkan, untuk mencapai tujuan- tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru untuk mata pelajaran tertentu yang di pegangnya. Komunikasi merupakan salah saru faktor yang sangat dominan dalam suatu kegiatan pembelajaran bersama, karena dapat di katakan bahwa, baik tidaknya suatu proses pembelajaran bersama, hidup tidaknya suasana kelas, kenyamanan dan keikutsertaan yang aktif dari tiap siswi, semua itu sangat ditentukan oleh baik tidaknya penguasaan dan keahlian berkomunikasi seorang guru dan sisiwanya. Untuk itu, seorang guru seharusnya menguasai Ilmu Komunikasi secara utuh untuk meningkatkan pengajaran kelas yang dimilikinya dan dapat menghidupkan situasi pembelajaran yang nyaman, fokus, terarah, dan tepat pada sasaran atau tujuan- tujuan dalam suatu pembelajaran.

B. Rumuan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat kita rumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Apa komponen- komponen yang terdapat dalam suatu Komunikasi di dalam suatu pembelajaran ?

2. Apa macam- macam Komunikasi dalam suatu pembelajaran ?

3. Apa hambatan- hambatan yang mungkin terjadi saat proses Komunikasi dalam suatu pembelajaran sedang berlangsung ?

4. Bagaimana cara mempraktikan macam- macam Komunikasi dalam suatu proses pembelajaran bersama ?

BAB II

TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Komponen Komunikasi dalam Pembelajaran

Sebelum kita mempelajari komponen- komponen Komunikasi dalam suatu pembelajaran, terlebih dahulu kita harus memahami pengertian dan hakekat komunikasi itu sendiri. Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil, apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak, si pengirim dan si penerima informasi dapat memahaminya. Hal itu tidak berarti bahwa kedua belah pihak harus menyetujui suatu gagasan tersebut, tetapi yang penting adalah kedua belah pihak sama- sama memahami gagasan tersebut. Dalam keadaan seperti inilah baru baru dapat dikatakan Komunikasi telah berhasil dengan baik ( Komunikatif ). Dari pengertian diatas dapat kita pahami bahwa Komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses sosial yaitu sesuatu yang berlangsung atau berjalan antar manusia.[1]

Beberapa pakar dalam ilmu Komunikasi membagi komponen- komponen ini tidaklah begitu seragam, biarpun demikian sama saja makna yang dikandungnya yaitu ada pengirim, pesan dan penerima. Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Efendi, MA. Komponen- komponen dalam komunikasi, terutama dalam proses pembelajaran, ada 5 yaitu :[2]

1. Komunikator, yang dimaksud komunikator disini adalah guru, walaupun banar pada setiap saat dan kondisi apapun, siswa atau siapapun dapat memposisikan diri sebagai komuikator, tetapi dalam suatu pmbelajaran bersama, komunikator utamanya adalah pengajar. Dan untuk menjadi komunikator yang baik, pengajar harus memperhatikan beberapa hal yaitu :[3]

a. Penampilan seorang pengajar harus sesuai tata krama, memperhatikan keadaan, waktu dan tempat ( ketupat ), Self Confident dan mempunyai sikap yang baik pada setiap pelajar.

b. Penguasaan masalah secara menyeluruh dan mendalam, yang diharapkan juga mengetahui pengetahuan yang berkaitan dengan materi atau bahan agar pembelajaran fokus dan tidak membias.

c. Penguasaan Bahasa, maksudnya bahasa komunikasi dari seorang pengajar harus diusahakan jelas, tidak berbelit- belit, positif, mudah dipahami siswa dan didukung penguasaan ketrampilan berkomunikasi yang baik.

Selain itu pengajar dituntut menguasai 4 tahap proses Komunikasi secara menyeluruh yang diharapkan dengan menguasainya, pengajar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu :[4]

a. Fact Finding Yaitu tahap yang dilakukan sebelum berkomunikasi, mencari dan mengumpulkan fakta dan data yang disesuaikan dengan sasaran pembelajaran  ( Indikator ).

b. Planning yaitu membuat perencanaan tentang apa yang akan dilakukan, yang akan dikemukakan, bagaimana, dengan apa, dimana dan kapan.

c. Communicating, dalam berkomunikasi pengajar harus memperhatikan beberapa hal yaitu situasi, sasaran, apa ( bahan atau materi ), bagaimana     ( cara penyampaian ), dengan apa ( alat ), dimana ( tempat proses komunikasi berlangsung ).

d. Evaluation Yaitu Penilaian dan analisi kembali yang diperlukan untuk melihat bagaimana hasil komunikasi tersebut. Ini kemudian menjadi bahan bagi perencanaan melakukan komunikasi selanjutnya.

2. Komunikan, yang dimaksud komunikan disini adalah siswa. Ditinjau dari segi sasarannya atau jumlah siswa, maka komunikasi dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu Komunikasi Perseorangan ( Personal Communication ) dan Komunikasi Kelompok ( Group Communication ).[5]Pada umumnya proses pembelajaran dikelas dilakukan secara    face- to- face. Saat itulah seorang pengajar dituntut mahir dalam menerapkan berbagai macam komunikasi baik group Communication maupun personal Communication, baik komunikasi searah maunpun komunikasi dua arah.

Secara teoritis, setiap orang sebelum melakukan Intercommunication, maka ia akan melakukan Intercommunication yang terdiri atas 3 proses yaitu :

Perception             Ideation              Transmission,yang gambarannya sebagai berikut : Seorang pelajar saat melihat obyek, maka ia akan melakukan Perception yaitu pengindraan terhadap suatu obyek, yang kemudian dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan dan kebutuhan. Kemudian pengalaman, pengetahuan itu diseleksi sehingga membentuk suatu konsep yang dianggap relevan atau sesuai (Ideation). Setelah itu ditransmisikan yaitu hasil konsepsi karya penalaran tadi dilontarkan atau diungkapkan lewat mulut. Oleh karena itu, semakin sering Intracommunication ini dilatih, maka Intracommunication akan semakin hebat, mantap, meyakini, sistematis dan logis.[6]

3. Pesan yaitu kesekluruhan dari apa yang disampaikan komunikator. Setiap pesan umumnya mempunyai inti ( Tema ) pokok. Pesan dalam suatu proses pembelajaran adalah pengetaahuan, yang dengan memahaminya, mempraktekannya sampai membiasakannya, diharapkan terjadi perubahan pada diri siswa kearah yang positif, serta diharapkan siswa mampu menggali dan memanfaatkan segala petensi dalam diri agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain dimanapun dan kapanpun ia berada.

Seorang pengajar harus berusaha membuat siswa mampu memahami dan menguasai inti dari pesan yang disampaikan. Oleh karena itu pesan harus disampaikan leway bahasa Komunikasi yang jelas, sederhana, tidak berbelit- belit, mudah dipahami sehingga tidak terjadi biar atau kekaburan. Bentuk pesan yang disampaikan kepada siswa yaitu informatif, persuasif ( bujukan ), dan koersif. Dalam penyampaian pesan, pengajar dituntut harus mahir menggunakan berbagai bentuk pesan jangan sampai membuat siswa merasa jenuh, minder terutama lagi sampai tidak termotivasi, terlebih lagi bentuk yang terakhir bersifat memaksa dengan sanksi apabila tidak dilaksanakan.

4. Media

Kata Media berasal dari bahasa latin yang berarti perantara.[7] Jadi segala yang menjadi perantara disampaikannya suatu pengetahuan dapat disebut media termasuk dari pengajar, alat dan teknologi sebagaimana telah dibahas.

Dalam suatu pembelajaran pengajar boleh menggunakan berbagai macam media asalkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, tepat guna, ada dan sesuai dengan kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan pengajar serta sesuai dengan tingkat kematangan siswa. Media yang baik adalah media yang dapat membuat fokus dalam penguasaan materi tanpa perasaan dipaksa atau ditekan. Jadi media yang baik adalah media yang dapat membantu menghidupkan suasana kelas, membuat siswa lebih aktif dan senang serta termotifasi.

Penelitian terakhir tentang kemampuan otak pikiran, New York, 1991, menunjukan bahwa fokus perhatian berlangsung amat singkat antara 5-7 menit, tergantung masalah dan tingkat minat kita terhadap masalah tersebut, pikiran kita bekerja paling baik saat berlangsungnya letupan energi singkat ini.[8]

Untuk itu, pengajar sangat diharapkan mampu dan terampil didalam memetakan “ Peta Kognitif “ di benak setiap siswa dalam waktu yang relatif singkat tersebut agar siswa mampu menguasai materi minimal materi pokok pembelajaran saat itu.

5. Eject Yaitu hasil akhir dari suatu komunikasi.[9] Untuk mengatasi besar kecilnya efek yang didapat setelah melakukan komunikasi dalam suatu pembelajaran, dapat diketahui lewat 2 cara yaitu Opini dan Evaluasi.

B. Macam- Macam Komunikasi dalam Pembelajaran

R. I. Sukartin Cetrobroto membedakan macam- macam komunikasi, sebagai berikut :[10]

1. Menurut lawan komunikasi

a. Satu lawan satu ( Privat Communication )

b. Satu lawan banyak atau banyak lawan satu atau banyak lawan banyak ( Public Communication )

2. Menurut jumlah yang dijadikan sasaran komunikasi

a. Personal Communication

b. Group Communication

3. Menurut cara penyampaian

a. Komunikasi Lesan

b. Komunukasi Tertulis

c. Komunikasi Langsung

d. Komunikasi Tak Langsung

e. Komunikasi Searah

f. Komunikasi Dua Arah

g. Komunikasi Gabungan

C. Hambatan- Hambatan Komunikasi dalam Pembelajaran[11]

1. Hambatan Bahasa

Pengajar tidak dianjurkan menggunakan berbagai macam istilah sekiranya hal itu menyebabkan sulitnya materi dipahami. Tetapi dalam suatu diskusi pengembangan, penggunaan istilah malah sangat dianjurkan karena selain memperkaya pengetahuan juga melatih pemahaman dan penguasaan berbagai istilah. Untuk meminimalisir hambatan ini, pengajar harus memahami kemampuan- kemampuan yang telah dimiliki siswa termasuk tingkat kematangan siswa.

2. Hambatan Teknis

Pesan bisa menjadi tidak utuh diterima siswa manakala ada gangguan teknis. Misalnya suara tak jelas atau tak sampai karena pengeras rusak, kurang ahlinya pengajar dalam menggunakan media sehingga pengajaran tetap kaku dan kurang hidup.

3. Kurangnya pengetahuan atau isi pesan berlebihan

4. Kurang cakap dalam berkomunikasi

5. Adanya faktor kebisingan

6. Bersifat satu arah

7. Terganggunya psikologis atau kesehatan, dan lain sebagainya

D. Mempraktekan macam- macam komunikasi

Macam- macam komunikasi dapat kita praktekan dalam beberapa ketrampilan dasar mengajar [12] yang harus dikuasai dan dilatih oleh para pengajar agar pengajarannya meningkat dan lebih baik diantaranya adalah:

1. Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran

Ketrmpilan ini dapat kita lakukan lewat ( T ) Tarik minat dan perhatian siswa, kemudian ( M ) Moyifasi mereka, kemudian ( A ) Acuan diberikan, ( K ) Kaitkan antara topik yang sudah dikuasai dengan yang baru, dan ( T ) Tanggap situasi kelas.

2. Ketrampilan menjelaskan

Ketrampilan ini dapat dilakukan dengan komunikasi searah, dengan cara ( P ) Peta kognitif kemudian ( H ) Hubungan dan terangkan.

3. Ketrampilan bertanya dan penguatan

Ketrampilan ini dapat dilakukan dengan komunikasi dua arah dengan berpegang pada ( H ) Hargai jawaban mereka dan ( JR ) Jangan meRendahkan mereka apalagi dihadapan teman- teman mereka.

4. Ketrampilan menggunakan variasi

Untuk menerapkan ketrampilan ini secara optimal, kita dapat menggunakan  ( G ) Gerak, ( S ) Suara dan ( M ) diaM. Kita dapat melakukannya dengan variasi- variasi tertentu menurut kebutuhan.

5. Ketrampilan mengaktifkan belajar siswa

Untuk mengaktifkan belajar siswa, pengajar harus benar- benar (A) Aktif dan  ( PEK ) PEka terhadap situasi Kondisi kelas saat pembelajaran. Penerapan ketrampilan ini membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi ( High Selfconfident ) dan kecakapan dalam berkomunikasi, selain itu kepandaian dalam pengorganisasian kelompok belajar- belajar untuk mengaktifkan belajar siswa juga sangat dibutuhkan oleh para pengajar.

BAB III

KESIMPULAN

1. Komponen- komponen komunikasi dalam pembelajaran meliputi pengajar, pelajar, media, pesan dan efect.

2. Pembagian macam- macam komunikasi dalam suatu pembelajaran dapat dilihat dari berbagai segi baik dari jumlah komunikator atau komunikannya, baik personal maupun group, dengan lesan atau tulisan, baik langsung ataupun tak langsung serta searah ataupun dua arah.

3. Hambatan- hambatan komunikasi dalam suatu pembelajaran diantaranya yaitu hambatan bahasa, hambatan teknis, hambatan dari diri, orang lain maupun alam.

4. Mempraktekan macam- macam komunikasi dapat lewat ketrampilan- ketrampilan dasar mengajar yang kita terapkan disituasi kondisi  kelas yang nyata dan pengembangan dan penguasaannya dapat dilatih lewat microteaching.

BAB IV

PENUTUP

Pembahasan tentang Komunikasi diatas, walaupun baru selintas batas pengenalan dan pembahasan teori, semoga bermanfaat bagi kita semua terutama penyusun. Semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dan pertolongan kepada kita didalam mengarungi kehidupan ini dan menjadikan kita pendidik yang handal, profesional dan harum nama baiknya. Amin………….

DAFTAR PUSTAKA

Marno, M. Pd. , dkk, Strategi dan Metode Pengajaran, Jogjakarta : Ar- Ruzz Media, 2009.

H.A.W.Widjaja,Prof. Drs., Ilmu Komunikasi Pengantar Studi Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000.

Onong Uchjana Efendi, Prof. Drs., Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek,Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992.

Pupuh Fathurrohman,Prof.,dkk., Strategi Belajar Mengajar Bandung: Refika Aditama, 2007.

Wycoff, Joyce, MBA., Menjadi Super Kreatif Melalui Metode Pemetaan- Pikiran ,Bandung : PT. Kaifa, 2003.


[1] Prof. Drs. H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000 ), hal. 89

[2] Prof. Drs. Onong Uchjana Efendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), hal.6

[3] Prof. Drs. H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000 ), hal. 31

[4] Ibid. hal. 39

[5] Ibid. hal. 63

[6] Prof. Drs. Onong Uchjana Efendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), hal.102-103

[7] Prof. Pupuh Fathurrohman M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar ( Bandung : Refika Aditama, 2007 ), hal. 65

[8] Joyce Wycoff, Menjadi Super Kreatif Melalui  Metode Pemetaan- Pikiran ( Bandung : PT. Kaifa, 2003 ), hal.64

[9] Prof. Drs. H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000 ), hal. 38

[10] Ibid. hal. 63

[11] Ibid. hal. 34-35, 68-70

[12] Marno, M. Pd. , dkk, Strategi dan Metode Pengajaran, Jogjakarta : Ar- Ruzz Media, 2009, hal. 65- 66, 75-151

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: