KONTRUKSI KEILMUAN DAKWAH (Amrullah Ahmad)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Realitas dan pengembangan pemikiran keilmuan dakwah
Dakwah islam sebagai usaha dan kegiatan orang beriman dalam mewujudkan ajaran islam dengan menggunakan sistem dan cara tertentu kedalm kenyataan hidup perorangan (fardiyah), keluarga (usrah), kelompok (thaifah), masyarakat (mustama’) dan negara (daulah) merupakan kegiatan yang menjadi sebab (intrumental) terbentuk komunitas dan masyarakat muslim serta peradabannya. Tanpa adanya dakwah, maka masyarakat muslim tidak dimungkinkan keberadaannya dengan demikian , dakwah merupakan pergerakan yang berfungsi metansformasikan islam sebagai ajaran [doktrin] menjada kenyataan tata massyarakatnya dan peradabannya yang mendasarkan pada pandangan dunia islam yang bersumber pada al quran dan assunah . oleh karenya dakwah islam mjerupakan faktor dinamik dalam mewujudkan masyarakat yang berkualistas khoira ummah dan dauliyah thayyibah.
Pada sisi lain dakwah sebagai aktifitas transformasi islam sebagai realitas masyarakat , dewasa ini secara internal mengalami penurunan kualitas. Dakwah islam dewasa ini secara internal mengalami penurunan kualitas. Dakwah islam dewasa ini menghadapi tantang eksternal yang serius dari gerakan faham materialisme., liberalisme, sekularisme dan kapitalisme global serta serta gerakaan lain, sosialisme¬¬-komunisme . pemikiran dan ideologi gerakan ini telah masuk kedalam wilayah kehidupan umat islam dalam kehidupan pribadi (fardi). keluarga (usroh) klompok (thifah).
Pakar muslim dalam mengkaji dakwah sesuai dengan bidang ilmunya pada umumnya menyentuh dakwah islam sebagai aktifitas transformasi ideal islam kedalam realiatas ummah sesuai latar belakang disiplin ilmunya masing-masing. pada umumnya pakar dakwah mengkaji dari sisi antologis. aksiologis secara epistemologis masih belum dilakukan secara serius dan mendalam. Pakar muslim menulis banyak karya mengenai dakwah dengan kajian lintas disiplin sesuai dengan bidang keahliannya yang belum disertai dengan alat analisa yang dapat menyatukan disiplin ilmu dakwah didalam kesatuan subtansi keilmuan.
Para ahli tafsir menekankan menekankan pada aspek makna tekstual ayat – ayat dakwah. Para ahli hadist memberikan komentar hadist – hadist nabi SAW yang berkaitan dengan dakwah nabi SAW. Para ahli fiqih mengurai dakwah dari sisi hukum syari’ah. Ahli sejarah menkaji dari sisi prosesnya dakwah berlangsung. Para da’i pemikir menguraikan dari sisi masalah dakwah dan konsep pemecahan baik dari segi setrategi maupun metode dakwak yang relevan.
Proses sestematis keilmuan dakwah jika dilihat dari persepektif indonesia, dewasa ini sedang berjalan melalui gerakan pengembangan dakwah sebagai ilmu dilingkungan kampus di Indonesia. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkembangan pemikiran “dakwah sebagai ilmu” di indonesia secara akademik dapat dikatakan cukup mengembirakan. Pada tanggal 17 mei 1994 di IAIN jakarta diselenggarakan pertemuan para dekan fakultas dakwah seindonesia dengan pakar ilmu dakwah dengan maksud mengadakan klarifikasi epistemologis keilmuan dakwah dalam menetapakan jurusan pada fakultas dakwah. Tema sentral pertemuan membahas sistem pendidikan ditinjau dari penjurusan, kurikulum dan metode pendidikannya. Dalam pertemuan itu para pakar ilmu dakwah dan para dekan fakultas dakwah kemudian berasil merumuskan bahwa disiplin ilmu dakwah terdiri dari tiga disiplin utama:
1. Disiplin ilmu tabliq (komunikasi dan penyiaran islam seta penyuluahn dan pembimbingan islam)
2. Disiplim pengembangan masyarakat Islam.
3. Disiplin managemen dakwah.
Pemikiran itu kemudian dilembagakan dalam kurikulm nasional fakultas dakwah 1975. disiplin ilmu dakwah islam dalam struktur kurikulum. Disiplin ilmu dakwah islam dalam struktur kurikulm 1995 memiliki karakteristik tertentu jika dibandingkan dengan kurikulm disilpin dakwah islam sebelumnya.
B. Subtansi keilmuan dakwah
Istilah dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti seruan, ajakan atau panggilan. Seruan pangilan ini dapat dilakukan dengan suara, kat ataupun perbuatan. Sedangkan pencantuaman “islam”setelah kata “dakwah” dimaksud untuk mempertegas kata dan kandungan misi “dakwah” dimaksud untuk mempertegas kata dan kandungan dakwah karena al Qur’an digambarkan ada 2 sistem dakwah.
1. Dakwah menuju jalan Allah
Jalan kebaikan atau jalan surga seperti tampak dalam ayat: serulah (manusia) jepada jaln tuhan-Mu (Qs. An-Nahl: 125)
2. Dakwah menuju pada jaln syaitan.
Jalan keburukan atau jaln api neraka seperti dalam ayat: “dan apakah mereka (akan mengikuti bapak mereka) walaupun setan menyuruh mereka siksa api neraka sedang Allah mengajak kesurga dan ampunan dengan ijinnya dan allah menerangka ayat – ayatNya (Perintah – perintahNya) kepada manusia supaya mereka mengabil pelajaran (Qs. Al – Baqoroh: 221)
C. Jenis kegiatan dakwah sebagai Fenomena keilmuan
1. Kegiatan tabliq islam
a. Komunikasi penyiaran islam terdiri dari kegiatan pokok:
Sosialisai, internalisasi, dan eksternalisasi ajaran islam dengan menggunakan saran mimbar dan media masa (cetak dan audio-visual) yang dapat dirinci sebagai berikut:
– Penyampaian tauhid.
– Penyadaran fitri, fungsi dan tujuan hidup manusia.
– Pembina keimanan, fikroh, akhlak dan ibadah.
– Pengembangan fikroh islam dalam semua aspek kehidupan secara utuh sehingga mad’u memiliki pandangan yang koperensip tentang realitas kehidupan manusia menurut ajaran islam dan melaksanakan dalam kegiatan sehari – hari.
– Memberikan motivasi untuk melasanakan ajaran islam yang sudah dipahami atau sudah diterima.
– Membina sikap ukhuwah islamiyah, kesatuan dan persatuan umat.
b. Bimbingan penyuluhan islam (ta’dib) terdiri dari kegiatan pokok:
Bimbingan pribadi dan keluarga dengan melakukan penyuluhan islam sesuai dengan konteks masalah dan pemecahan problem psikologis dengan psikoterapi islam yang dapat dirinci sebagai berikut:
– Melakukan bimbingan cara mengamalkan ajaran islam.
– Melakukan penyuluhan bagaimana memahami dan melaksanakan ajaran islam yang benar.
– Memecah masalah yang timbul karena hubungan personal dan kelompok dengan pendekatan islam.
– Membantu memecahkan masalah psikologi keluarga muslim atau kelompok – kelompok profesi karena adanya masalah keluarga dan pekerjaan dikantor dengan pendekatan islam.
2. Kegiatan pengembangan masyarakat islam
Kegiatan memikirkan masyarakat terdiri dari kegiatan pokok: Tranformasi dan pelembagaan ajaran islam kedalam realitas islam (khoirul ummah) yang dapat dirinci sebagai berikut:
– Penyampaian mengenai konsepsi islam mengenai kehidupan, budaya, sosial, ekonomi, politik dan pemeliharaan lingkungan.
– Penggalangan ukhuwah islamiyah lembaga ummat dan kemasyarakatan pada umumnya dalam rangka mengembangakan komunitas dan kelembagaan islam.
– Mewujudkan kesepakatan dengan masyarakat bina.
– Riset potensi lokasi dakwah, pengembangan potensi lokal dan pengembangan kelompok swadaya ummat.
– Katalisasi aspirasi dan kebutuhan umat.
– Kosultasi dan dampingan tehnis dan kelembagaan.
– Dampingan penyusunan rencana dan aksi sosial pelaksanaan rencana dalam rangka pengembangan komunitas dan institusi islam.
– Memandu pemecahan masalah sosial, ekonomi dan lingkngan umat.
– Melassanakan atabilisasi kelembagaan dan menyiapkan pelepasan masyarakat untuk membangun secara mandiri dan kelanjutan.
– Menyiapkan harakah penegak amar ma’ruf nahi munkar.

BAB II
KEILMUAN DAKWAH
A. Disiplin Dan Struktur Keilmuan Dakwah
Berdasarkan hakekat dakwah, obyek formal ilmu dakwah serta analisa masalah interaksi antar unsur dakwah sebagai bagian dari obyek formal, dan pengertian ilmu, maka disiplin ilmu dakwa dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian utama:Pertama, disiplin yang memberikan kerangka teori dan metodologi dakwa islam, kedua, disiplin yang memberikan kerangkah tehnis oprasional kegiatan dakwah islam. bagian pertama memberikan dasar-dasar teoritik dan metodologi keahlian dan disebut ilmu dasar (teoritik) dakwa dan bagian kedua memberikan kemampuan tehnis keahlian profesi dan disebut ilmu terapan/tekni oprasional dakwa (teknologi dakwa).
Bagian disiplin ilmu terapan / teknis dibagi menjadi tiga bidang, disiplin yang terdiri dari pertama, ilmu tabligh islam yang berkaitan dengan komunikasi dan penyiaran islam dan ilmu yang berkaitan dengan bimbingan dan penyuluan islam(ta’dib) yang keduanya dapat disebut teknologi tabligh. Kedua ilmu pengembangan masyarakat islam atau teknologi pengembangan masyarakat islam (islam Community development) dan ketiga, ilmu management dakwa islam atau teknologi organisasi islam.

1 . Disiplin Ilmu Dasar (teoritik)
Ilmu dasar dimaksudkan sebagai cabang-cabang ilmu dakwa yang memberikan prinsip-prinsip,paradigma,kerangkah teoritik, sistim dan metodologi dakwa. Dalam kelompok disiplin ini, masalah dakwa dikaji secara ilmiah sesuai dengan bidang dan lingkup masalah, metode-metode yang digunakan serta kerangka teoritik yang dikembangkan.
Disiplin ilmu dasar(teoritik) yang memberikan kerangka teori dan metodologi antaralain: Epistimologi dakwa(Pengantar ilmu dakwah sebagai induk ilmu dakwah) metode penelitian (ilmu) dakwah, filsafat dakwah, sejara dakwah, sistimdakwah,mabda dakwah, manhaj dakwah,psikologi dakwah,

2. Disiplin ilmu terapan/Teknis (Teknologi dakwa)
Disiplin ilmu terapan/Teknis oprasional (Teknologi dakwah) ilmu dakwah terdiri dari tiga kelompok pokok sebagai berikut :

A. Sub Disiplin Tablig Islam
1 . Ilmu komunikasi dan penyiaran
Termasuk dalam komponen ini : Ilmu tablig, Komonikasi Dakwah, Ilmu bimbingan dan penyuluan islam, teknis khitobah (retorika), teknik penulisan tajuk rencana dan feature dakwah, teknik peliputan dan penulisan berita dakwah, produksi siaran radio,televisi dan film dakwah, rijalul dakwah, akhlak muballigh,psikologi komunikasi dan tabligh, tehnik pengembangan majlis ta’lim,psikologi tabligh,geografi islam,metodologi penelitian tabligh dan kebijakan dan strategi informasi islam.

2. Ilmu Bimbingan dan penyuluan Islam
Termasuk komponen ini : Dasar – dasar bimbingan dan penyuluan islam(Ta’dib), Psikologi agama,psikologi kepribadian dan terapi islam,kesehatan mental,teknis penyuluan islam,teori bimbingan dan penyuluan islam,Metode penelitian penyuluhan islam, dan komunikasi lintas agama dan budaya.

1. Sub disiplin ilmu pengembangan masyarakat islam
Termasuk komponen ini : sistim pengembangan – pengembangan masyarakat islam, metodologi pengembangan masyarakat islam,peta dakwah islam, riset dakwah partisipati, manhaj pengembangan jama’ah, sistim pemberdayaan ekonomi ummat,pembangunan jaringan lembaga keuangan syariah, sistim pengembangan lingkungan muslim, analisa dampak lingkungan dakwah, teknologi berwawasan lingkungan muslim,kebijakan dan strategi pembangunan di dunia islam.

2. Sub disiplin ilmu manajemen dakwah.
Termasuk dalam komponen ini : dasar- dasar manajement dakwah (pengantar studi) kepemimpinan dakwah strategis, manajement sumberdaya dakwah, manajement lembaga keuangan syariah, teori pengembangan organisasi dakwah, kebijakan, strategi dan perencanaan dakwah, manajement kemasjidan, manajement haji,umroh dan ziarah, perencanaan strategis dakwah, perbandingan organisasi dakwah dan manajement zakat, infaq dan shodaqoh,manajement wakaf.

3. Ilmu Bantu
Termasuk dalam komponen ini,Ilmu tauhid,ilmu akhlak,ilmu mantiq(logika), filsafat dan pemikiran islam,ulumul qur’an, ulumul hadist,ushul fiqih,tafsir,hadist,fiqih,sirah Nabi SAW,Sejarah kebudayaan Islam,BahasaIndonesia,Bahasa Arab dan inggris, metodologi, antropologi, sosiologi,ilmum komunikasi ( Ilmu penerangan/penyuluan,ilmu jurnalistik,dan teknologi komunikasi ) Ilmu manajement,psikologi,filsafat (umum) epistimologi, ilmu hukum,ilmu politik,ilmu ekonomi,ilmu lingkungan,ilmu penyuluhan,teknologi sanitasi, sosiatri serta ilmu kesehatan masyarakat dan lingkungan.

B. Ancangan Pengembangan Teori Dakwah
Dalam pengembangan dakwah sebagai ilmu terasa sangat tidak mungkin tanpa dibarengi dengan adanya penemuan dan pengembangan kerangka teori dakwah.tanpa teori dakwah maka apa yang disebut dengan ilmu dakwah tidak lebih dari sekedar kumpulan pernyatan normatif tanpa memiliki kadar analisa atas fakta dakwah atau sebaliknya hanya merupakan kumpulan pengetahuan atas fakta sehingga mandul untuk memandu pelaksanaan dakwah dalam menghadapi masalah yang kompleks.
Dengan ditemukannya teori – teori dakwah yang telah menyebabkan keberhasilan dakwah masa lalu( dengan penelitian reflektif- penafsiran maudhu’i ) dapat di ujim kembali relevensi teori dengan fakta dakwah yang ada pada saat sekarang (dengan metode riset dakwah partisipatif) dan kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan (dengan metode riset kecenderungan gerakan dakwah)

1. Teori Medan Dakwah
Teori medan dakwah adalah teori yang menjelaskan situasi teologis,kultural,dan struktural mad’u pada saat permulaan pelaksanaan dakwah islam.
Dakwah Islam adalah sebuah ikhtiar muslim dalam mewujudkan islam dalam kehidupan pribadi (fardiyah) Keluarga (usroh),jama’ah (jama’ah) dan masyarakat (Ummah) dalam semua segi kehidupan sampai terwujud khoirul ummah. Khoirul ummah adalah tata sosial yang sebagian besar anggotanya bertauhid,senantiasa menegakkan yang ma’ruf (tata sosial yang adil) dan secara berjama’ah senantiasa berusaha mencegah yang mungkar (tata sosial yang dholim) yang inti pengerak interaksinya adalah birr dan taqwa.

2. Teori Proses dan Tahapan dakwah
Ada beberapa tahapan dakwah Rosulullah dan para sahabatnya yaitu :
1. Model dakwah dalam tahapan pembentukan (Takwin)
Pada tahapan ini kegiatan utamanya adalah dakwah bil lisan(tabliqh) sebagai ikhtiar sosialisasi ajaran tauhid kepada masyarakat Makkah,interaksi rosulullah Saw dengan para Mad’u mengalami ekstensi secara bertahap, keluarga terdekat ittisal fardhi dan kemudian kepada para kaum musrikin,ittisal jama’isasarannya Bagaimana supaya terjadi internalisasi islam dalam kepribadian mad’u,kemudian apa yang sudah di terima dan di cerna dapat diekspresikan dalam ghirah dan sikap membela keimanan dari tekanan struktural al mala dan al mutrafin quraisy Mekkah.hasilnya sangat signifikan,para elit dan massa masyarakat menerima dakwahnya.
2. Tahap Penataan Dakwah.(tandzim)
Merupakan hasil internalisasi dan eksternalisasi islam dalam bentuk institusionalisasi islam secara komprehenshif dalam realitas sosial,yang diawali dengan hijrah Nabi SAW,hijrah yang dilaksanakan setelah nabi memahami karateristik sosial Madinah baik melalui informasi yang diterima dari mush’ab bin umair maupun interaksi nabi dengan jama’ah haji peserta Baiatul Aqobah.dari strategi dakwah hijrah dilakukan ketika tekanan kultural,struktural dan militer sudah sedemikian mencekam,sehingga jika tidak dilaksanakan hijrah,dakwah,dapat mengalami involusi kelembagaan dan menjadi rapuh.
3. Teori Analisa Sistem Dakwah.
Penulis secara khusus meneliti dakwah islam dengan pendekatan teori sistem umum (The general system theory) yang hasilnya antara lain menyatakan :
1. Dakwah Islam adalah suatu sistem yang terdiri dari beberapa subsistem yang saling berhubungan,bergantung dan berinteraksi dalam mencapai tujuan dakwah.
2. Dakwah Nabi Muhammad SAW berjalan menurut alur sistem dakwah yang doarahkan Allah SWT yang menjadi sunnah Allah yang berlaku dalam dakwah islam yang bersifat tetap,obyetktif dan universal.
3. Dakwah islam sebagai suatu sistem memiliki masukan utama(raw input) berupa materi pokok dakwah dari wahyu allah(al qur’an) dan assunnah ketika dikonversikan menjadi keluaran baik dalam dataran pribadi,keluarga,kelompok,masyarakat dan negara telah menimbulkan kemelut dan goncangan sosial yang besar ditengah tata sosial,budaya dan peradapan yang telah mapan di tengah masyarakat.
4. Keberhasilan dakwah yang mendatangkan perubahan masyarakat yang signifikan adalah dakwah yang dijalankan dalam sebuah sistem yang subsistem konversinya berfungsi secara maksimal dalam mentransformasikan masukan menjadi keluaran,yang ditopang oleh kepemimpinan yang kuat yang visioner berorentasi pada tujuan dan perubahan lingkungan masyarakat
5. Sistem dakwah islam berjalan tepat guna ketika masukan sarana berupa metode,peta,dana dan fasilitas dakwah tersedia secara memadai.pemilihan dan penerapan metode yang tidak tepat dalam melakukan proses transformasi islam akan melahirkan tatanan masyarakat berpandangan ganda disatu pihak menyatakan beriman kepada Allah tetapi menolak menerapkan Syari’ah dalam kehidupan bermayarakat dan bernegara .
6. Momentum berkembangnya dakwah islam adalah karena adanya keluaran berupa negara yang menjadikan syari’ah sebagai otoritas tertinggi dalam menilai dan mengatur kehidupan masyarakat dan negara.
7. Balikan dari tanggapan lingkungan masyarakat(mad’u) terhadap harakah dakwah islam sebagai suatu sistem melahirkan 4 pola dasar : Pertama informasi mengenai medan dakwah,Kedua dukungan masyarakat yang menerima dakwah islam(umat ijabah)maka akan menjadi faktor yang dominan dalam penguatan sistem utamanya dalam masyarakat Ketiga hambatan masyarakat yang menolak dakwah islam akan menjadi faktir penghambat dan proses konversi sistem dakwah islam sebagai bentuk balikan negatif yang memerlukan penyelesaian secara tuntas.Keempat kelompok masyarakat yang bersifat netral terhadap dakwah islam tidak menerima dan tidak menolak dakwah islam secara tegas serta tidak memberikan hambatan dakwah islam.

BAB III
PROGRAM PENDIDIKAN DAKWAH

Berdasarkan uraian yang mendahului, terutama adanya empat aktivitas pokok dalam dakwah islam,kemungkinan epistimologinya dan disiplin keilmuannya,maka dalam dakwah islam ada 4 keahlian / profesi yang terdiri dari ahli tabliqh islam (penyiaran dan penerangan islam,dakwah bil lisan) pengembangan masyarakat islam (dakwah bil hal, aksi amal shaleh,pelembagaan nilai islam) dan manajement dakwah (Penataanndan kepemimpinan lembada dakwah) dengan demikian, jurusan / program studi untuk menopang kebutuhan keahlian dalam kegiatan dakwah dapat dikualifikasikan menjadi 4 jurusan.
A. Tujuan fakultas dakwah
Mendidik calon Muslim cendikiawan (Ulil albab) yang berakidah islam, berfikrah islam dan berakhlak mulia yang memiliki keahlian dan ketrampilan dalam dakwahislam serta berguna bagi masyarakat,bangsa dan negara.
B. Program pendidikan strata I ( S I )
Terdiri dari 4 jurusan dan masing-masung jurusan memiliki program studi:
1. Jurusan komunikasi dan penyiaran islam (KPI)
yaitu tujuannya mendidik Calon muslim yang bersetrata SI supaya memiliki akidah islam yang kuat berfikra islami (berwawasan islam) istiqomah dalam bersikap dan bertindak menurut islam dan memiliki ketrampilan (keahlian) menyampaikan ajaran islam kepada masyarakat baik dengan sarana mimbar ( Khotbah ) maupun media massa (cetak dan audio – visual ) kualifikasi kelulusannya : Ahli tabliq islam dengan menggunakan sarana mimbar dan media komunikasi massa baik cetak,maupun audio visual.
2. Jurusan pengembangan masyarakat ( PMI )
Jurusan ini bertujuan: mendidik Calon muslim yang bersetrata SI supaya memiliki akidah islam yang kuat, berfikra islam (berwawasan Islam) istiqomah dalam bersikap dan bertindak menurut islam dan memiliki ketrampilan (keahlian)menstrasformasikan dan melembagakan semua segi ajaran islam dalam kehidupan keluarga( usroh) kelompok sosial ( jama’ah) dan masyarakat (ummat ) sehingga terwujud khoirul ummah (Masyarakat yang adil dan makmur yang memperoleh ridhoh Allah).
Kualifikasi keahlian lulusannya: ahli pengembangan komunikasi islam dan pengembangna kelembagaan islam.
3. Jurusan manajement Dakwah ( MND )
Bertujuan mendidik calon cendekia bersetrata SI supaya memiliki akidah islam yang kuat, berfikrah Islam ( berwawasan Islam), istiqomah dalam bersikap dan bertindak menurut islam dan memiliki ketrampilan (Keahlian) mengelola lembaga-lembaga dakwah (lembaga yang mengemban misi dakwah islam) dalam rangkah menegakkan kepemimpinan ummat islam yang penuh ukhuwah islamiyah.
Kualifikasi keahlian kelulusannya : ahli manajement,dan organisasi dan pengmbangan dana dakwah islam.
4. Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam ( BPI )
Jurusan Manajement Dakwah bertujuan : mendidik calon muslim cendekia berstrata SI supaya memiliki aqidah islam yang kuat, berfikrah islami ( berwawasn Islam),istiqomah dalam bersikap dan bertindak menurut islam dan memiliki ketrampilan ( keahlian ) membimbing dan menyuluh pengamalan islam dalam kehidupan dan keluarga islam
Kualifikasi keahlian lulusannya : ahli bimbingan dan penyuluhan islam kepada keluarga muslim dengan pendekatan psikologi dan ajaran islam serta konsoltan/psikologi Muslim.
Berdasarkan uraian yang mendahului, maka dakwah sebagai ilmu secar epistimologi sangat signifikan untuk dikembangkan secara akademik sebagai induk ilmu-ilmu sosial dalam perspektif islam yang secara khusus mengkaji sistem transformasi ideal islam menjadi realitas ummatan khairan,juga sebagai ilmu perjuangan islam dan ilmu rekayasa masa depan ummat.
C. KOMENTAR
Saya setuju dengan apa yang terdapat pada yang dituturkan oleh bapak Amrullah Ahmad karena ilmu dakwah selalu membutuhkan bantuan ilmu – ilmu lainnya didalam memahami obyek study materi dan obyek studi formalnya. Bentuk kerja sama antar – ilmu dakwah dengan ilmu lainnya atau keterkaitan ilmu dakwah dengan ilmu lainnya.
Ilmu dakwah yang menerangkan seluk – beluk dakwah islamiyah, atau penyampaian ajaran islam kepada orang lain memiliki kaitan sangat erat dengan ilmu agama (islam) seperti tafsir, fikih, perbandingan agama, dan sebagainya. Hal – hal ini di sebab melalui ilmu – ilmu nilai ajaran agama islam sebagai materi dakwah islamiyah dapat digali dan dikaji secara mendetail.
Dengan penggalian ajaran islam melalui ilmu – ilmu ini, maka semakin dapat di ketahui hal – hal yang berkaitan dengan dakwah baik dengan cara – cara dakwah, pengaruh terhadap sikap dan tingkah laku seseorang, media – media dakwah dan masalah – masalah yang lain termasuk obyek formal ilmu dakwah. Disamping itu, ajaran islam yang digali melalui ilmu dakwah diatas juga merumuskan kode etik dakwah islamiyah yang dapat di jadikan pegangan dalam setiap pelaksanaan dakwah islamiyah.
Akan tetapi ilmu agama juga membutuhkan bantuan ilmu dakwah dalam menyampaikan dirinya kepada umat manusia tanpa diterangkan atau disampaikan kepada masyarakat, ilmu – ilmu agama tersebut hanya merupakan suatu ide belaka yang tidak bisa terwujud dalam kenyataan serta tidak diketahui oleh orang lain.

D. Daftar buku rujukan
Ali aziz, Moh. Dr. M. Ag, ilmu dakwah, Jakarta,Prenada Media, Jakarta 2004

BAB IV
PENUTUP
Demikianlah makalah ini dibuat semoga bisa bermanfaat kita semua, namun dari kami selaku penulis / penyusun juga tidak melupakan adaya pepatah “Tak ada gading yang tak retak” oleh karena itu kami selaku penulis / penyusun makalah ini mau menrima saran dan kritik dari pembaca, yang bersifat membangun sehingga dapat membatu menyempurnakan makalah ini. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kholillul Rohman yang membimbing saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Itu semua hanya kepada Allah kami mohon taufik dan hidayah-Nya, semoga usaha yang mulia ini senantiasa dalam keridloan-Nya.. Amin …. !
Jepara, Juli 2009
Penulis.

CARA BERFIKIR YANG BAIK

CARA BERFIKIR YANG BAIK

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. Berfikir Secara Logis

Setiap kita selalu berfikir, rasa – rasanya berfikir itu begitu mudah, setiap hari sebelum dan sesudah kita tidur selalu mengalami konflik batin. Konflik batin terjadi manakalah kita mempunyai dua pilihan sedangkan dua pilihan itu tidak bisa kita putuskan.

Contoh:

Kemarin anda berjanji dengan seorang teman, bahwa hari ini anda berusaha menemui dia dirumahnya. Tetapi kerena hari ini hujan turun lebatnya, maka anda tidak bisa keluar rumah maka apa yang terjadi pada diri anda. Anda tidak tenang, batin anda selalu memikirkan, bagaimana kalau dating kesana sedang hari masih hujan, kalau tidak datang bagaimana dengan teman anda itu, nah, itu termasuk gejolak konflik batin.

Berfikir kelihatannya sangat mudah, karena sejak kecil kitapun berfikir. Tetapi berfikir yang bagaimana? Memang, berfikir itu muda jika kita tidak menggunakan akal dan tidak menggunakan fakta. Tetapi berfikir dengan cermat dan teliti tentu sangat sukar. Kita dituntut untuk memperhatikan fakta yang ada lalu menarik kesimpulan akan kebenaran.

Anak kecil yang masik mulai berjalanpun bisa berfikir tetapi berfikir yang tidak menggunakan penalaran. Namun bagi kita, orang yang dewasa dengan pengalaman banyak, tentu kita harus berfikir secara logis dan perlu sikap yang teliti.

  1. 2. Jangan Berfikir Sembrono

Berfikir tanpa adanya penalaran adalah tak ubahnya bagaikan seekor harimau yang terkecoh oleh kancil yang cerdik. Tanpa berfikir secara matang. Harimau tidak menolak pemberian kancil. Dia diberi buah – buahan yang merekah, lalu tanpa berfikir lebih banyak harimau itu memakannya, maka tak lama mulut harimau itu terasa pedas dan panas, buah yang diberikan kancil itu ternyata tidak manis rasanya tetapi pedas, karena yang dimakan harimau itu adalah buah lombokyang berwarna merah. Itu sekedar contoh perbedaan orang yang berfikir secara sungguh – sungguh dengan orang yang hanya berfikir sekedar saja.

Berfikir secara sembrono akan mengakibatkan suatu yang fatal bagi kehidupan kita, jangan lah memutuskan persoalan dengan cara gegabah. Hendaknya anda berfikir lebih dulu baru kita tarik kesimpulan. Setelah kesimpulan anda itu benar – benar pasti dan masuk akal maka laksanakan pekerjaan itu.

Contoh:

Seorang supir yang berjalan dengan kecepatan tinggi pastia akan mengalami kecelakaan bila dia tidak memperhatikan haluan yang ada didepannya. Sembrono dan ceroboh. Dengan keadaan yang seperti itu hendaknya si sopir tersebut bisa memikirkan bagaimana bila kedaraan yang ada didepannya itu disalipnya. Apa di depan sana tidak ada mobil yang berlawanan arahnya. Dengan perhitungan yang matang tentu dia akan selamat dari kecelakaan.

Seorang teman saya pernah mengeluh karena perusahaannya jatuh pailit. Lapangan usahannya mengalami kemerosotan disebabkan oleh keteledorannya dalam memimpin sebuah perusahaanitu. Karena dia croboh dan gegabah memutuskan persoalan transaksi jual beli. Tanpa dipikirkannya secara mendalam, maka usahanya mengalami gulung tikar.

Ada pula cerita yang berkaitan erat dengan sikap sembrono. Tardi seorang karyawan di sebuah pabrik penggrajian kayu. Dan dia lama bekerja disana, malah dia sekarang dipercaya untuk memegang gergaji raksasa itu sudah nampak tua tapi tardi malah biarkan saja, menurut tardi baut itu mash kuat untuk menahan gergaji tersebut. Akan tetapi ketika dia menjalankan mesin gergaji tersebut, telah mulai bergerak tak disangka barang tersebut jatuh dan menimpah tangan tardi hingga akhirnya patah, itulah akibatnya karena tidakan yang gegabah dan sembrono maka bahaya bisa menimpah dirinya.

Maka sebelum bertindak sebaiknya diteliti dulu pekerjaan kita, jang bersikap sembrono dan gegabah / menggap enteng suatu barang. Apabila anda berfikap sembrono, maka maut akan menimpah kita.

BAB II

BERFIKIR SECARA NALAR

  1. 1. Berfikir Secara Nalar

Berfikir secara nalar maksudnya ialah berfikir tepat dan jitu. Berfikir yang memerlukan otak untuk memilih – milih sesuatu yang sesuai dengan patokan logika. Melihat kenyataan pada diri kita lalu menggabungkan sebab dan akibat. Artinya setian apa yang kita perbuat hendaknya hendaknya disesuikan dengan keadaan yang ada pad diri kita, bila hal tersebut cocok dengan kenyataan dan andaikata dikerjakan bisa mengakibatkan keuntungan maka laksanakan hal tersebut.

Seandainya kita mempunyai pikiran dan cita – cita untuk membeli suatu mobil yang harganya sangat tinggi bagi diri kita, maka sebaiknya kita tinggalkan saja karena tidak cocok dengan kenyataan yang ada. Bila hal itu kita paksakan, maka kita sendiri yang sengsara.

Berfikir nalar adalah melihat diri sendiri berfikir tentang menarik akibat dan menarik kesimpulan. Janganlah berfikir dengan emosi, karena keinginan yang membara maka anda tidak melihat sisi yang lain. Itulah sebabnya, mengapa seseorang yang telah berhasil kemudian tiba – tiba mengalami depresi yang hebat, mengalami kemerosotan kekayaan bahkan depresi jiwapun akan terpengaruh juga.

Janganlah anda yakin dengan kebenaran yang telah anda fikir kan sebelum anda menarik kesimpulan. Dan sebaiknya gagasan yang anda anggap benar itu lebih dulu anda lontarkan kepada orang lain yang dapat kita percaya untuk menilai anggapan anda.

Usahakan kesimpulan itu bersifat sungguh – sungguh pasti, tidak ada pengaruh dari luar yang dapat menggoyangkan jalan pikiran anda atau kepastian kesimpulan. Hal – hal mempengaruhi kepastian didalam menarik kesimpulan ialahrasa emosi yang meluap – luap, rasa ingin memiliki atau melaksanakan yang membara, rasa senang, benci dan lain sebagainya.

Disamping itu pemikiran juga mengenal system problem. Maksudnya tidak menutup diri dalam berfikir atau menarik kesimpulan. Selalu mempunyai kemungkinan informasi dari luar pemikiran yang mungkin berubah keputusan yang kita ambil.

Suatu kesimpulan itu pasti apabila kita tahu dengan positif. Tanpa ragu – ragu bahwah kesimpulan yang kita tarik itu benar, dan bahwa kesimpulan atau ucapan yang mengatakan sebaliknya itu salah. Tingkat kepastian itu dicapai tergantung dari cara bagaimana dari hal yang dibuktikan. Bagaimana hubungan titik pangkal dan kesimpulan dan kekuatan – kekuatan alasan kita.

Adapun pedoman berfikir secara nalar itu, ada beberapa hal yakni:

  1. Anda harus berfikir secara kritis. Sebuah keterangan yang takpasti hendaknya jangan percaya begitu saja.
  2. Sebelum bertindak, sebaiknya anda harus berfikir lebih dahulu untuk beberapa saat.
  3. Pandangan anda harus luas dari pada pikiran kita sendiri. Waspadalah terhadap prasangka – prasangka sendiri. Jangan menganggap benar apa yang kita sukai dan menolak apa yang kita benci.
  4. Pikirkanlah dua kali. Jangan gegabah menarik kesimpulan atau mengemukakan pendapat seakan – akan merupakan kebenaran mutlak.
  5. Bersikaplah terbuka. Mungkin pendapat anda perlu dikoreksi atau ditinggalkan sama sekali atas dasar informasi baru.
  6. Hendaknya anda memikirkan jangka panjang dan berpandangan luas.
  7. Bersikaplah kritis, apa yang dikemukakanorang lain. Adakan cekking juga tehadap pendapat diri sendiri.
  8. Bersikaplah optimis, carilah segi – segi positif dalam segala hal dan berdiskusi juga dalam hal berfikir bersikap simpatik terhadap orang lain.
  9. Bersikaplah jujur, orang dapat belajar banyak sekali dari kesalahannya sendiri asal disadari dan diakui.

10.  Bekerja dan berfikir secara teratur dan terencana.

  1. 2. Dengan Perkataan, Pemikiran Itu Terlontar

Berfikir telah dirumuskan sebagai berbicara dengan diri sendiri didalam batin. Manusia berfikir dengan mengunakan konsep atau pengertian – pengertian. Serta tidka perlu diucapkan dengan kata lisan atau tulisan. Tetapi apabila kiat fikirkan itu hendaknya diberitahukan kepada oarng lain. Maka isi pikiran itu harus dinyatakan dilahirkan dan di ucapkan. Adapun bila kita lontarkan pikiran pada orang lain tersebut bermacam – macam cara yakni dengan tanda – tanda atau dengan kata – kata. Jadi bahasa adalah alat untuk menyatakan isi pikiran, keduanya saling mengadakan hubungan timbale balik.

Maka berfikir itu tidak dapat dilihat oleh seseorang apa yang anda pikirkan sekarang saya tak akan dapat mengetahuiny. Apa yang berkecambuk dalam batik anda orang lain tak akan mengetahui hal itu. Kadang mereka termenung tetapi hatinya gembira atau kadang dia nampak ceria tapi hatinya remuk redam.

Diatas telah dikatakan bahwa kata – kata atau bahasa adalah alat bantu untuk menyatakan pikiran kita yang mulanya oaring lain yang tidak mengetahuinya, akhirnya tahu karena dapat kita ungkapkan dengan kata tersebut. Kata adalah tanda lahir yang menunjukan baik barang – barang (kenyataan) maupun pengertian – pengertian kita tentang barang – barang itu.

Meskipun demikian tak semuanya oaring dapt mengungkapkan kata hatinya dengan jelas dan sempurna. Betapa sulitnya menuliskan pemgalaman pribadi dalam sebuah kertas. Sebenarnya didalam hati banyak ide ternyata berhenti ditengah jalan.

Seorang pengarang, berusahan berusaha mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ini berate pengarang tersebut berpendapat, bahwa apabila tidak saya ungkapkan lewat kata mungking oarng lain tidak akan tahu apa yang saya rasakan, gejolak ahati saya tyang meledak – ledak dan sebagainya. Ungkapan atau paparan yang dilontarkan pengarang itu lazim disebut kata tulis.

Begitu juga seoarang da’i, dia berusaha agar orang lain mengerti apa yang ada didalam hatinya. Diatas mimbar dia menyusun kata – kata yang enak didengar para hadirin. Tanpa kata – kata mungkin da’i tidak bisa melontarkan gagasannya atau pemikirannya. Kata – kata yang disampaikan oleh da’i itu bukan kata tulisan melaikan kata lesan atau pembicaraan.

Jadi, berfikir dengan jelas dan tepat menuntut pemakaian kata – kata yang tepat pula, bahasa adalah laksana alat pemikiran yang kalau sungguh – sungguh kita kuasai dan kita pergunakan dengan tepat. Akan dapat membantu untuk memperoleh kecakapan dalam berfikir dengan lurus.

Orang tak dapat mungkin berbicara dengan baik serta tak dapat melontarkan pemikiran dengan sempurna bila tidak mempunyai kata – kata. Juga, seseorang tidak akan bisa berfikir dengan tepat tanpa adanya pengertian – pengertian. Maka pekerjaan akal kita yang pertama adalah harus mengerti tentang kenyataan yang kita saksikan. Pada dasarnya semua yang kita alami dan kita lihat, baik mahluk hidup maupun mati tentu ada namanya sendiri – sendiri. Ini namanya meja. Itu warnanya merah, kuning atau hijau, untuk istilah barang kita bentuk istilah lainnya sendiri.

Apabila ada orang berbicara sebuah kursi maka bayangan kita sudah mengatakan bahwa kursi itu begini, berkaki empat bukan untuk menulis tetapi untuk duduk, begitu juga dengan oaring yang melontarkan kata kuning yang mencoloktentu kita sudah bisa berfikir bahwa warna itu adalah warna yang tidak gelap, dia pasti cerah sekali.

Maka bila kita hendak bicaraatau melontarkan suatu syarat yang paling utama adalah kita harus mengerti dengan jelas tentang arti kata – kata, yang kita pakai apa maknanya, apa isinya dan bagaimana barangnya.

Seringkali orang yang memakai kata – kata yang berlainan untuk menunjukkan kenyataan atau pengertian yang sama missal biaya ongkos – ongkos, bulan dan sebagainya seringkali sukar untuk menemukan istilah yang cocok, yang dapat menggambarkan dengan jelas dan tepat apa yang terkandung dalam diri kita, dengan nilai rasa yang maksudnya.

Lebih – lebih dapat kita jumpai dalam suatu pembicaraan. Sering terjadi salah paham diantara kita karena kata yang kita pakai untuk menyatakan pengertian tertentu itu bertentangan dengan arti yang terdapat dalam pikiran orang lain. (dalam pikiran orang lain dihubungkan dengan pengertian yang lain pula).

Kalau anda menjumpai kata fery itu nakal, maka terlintas dalam fikiran kita fery adalah seorang anak manusi yang mempunyai kelakuan nakal. Entah nakal melanggar peraturan lalu lintas, peraturan tata tertib sekolah atau membangkang perintah orang tuanya. Pokonya, kata nakal adalah mencakup beberapa arti. Akan tetapi ada yang menafsikan yang lain, itulah sebabnya sehingga terjadi salah paham dan tidak ada kesinambungan.

Berfikir dengan logis maka hendaknya anda jangan ikut – ikutan memakai kata – kata atau selogan – selogan tanpa menyadari sungguh – sungguh arti kata yang digunakan, bila anda gegabah mengekor, atau sok pintar dengan menggunakan kata asing pahal anda sama sekali artinya maka akan membahayakan diri sendiri.

  1. 3. Kata – Kata Analogis Sering Menjerumuskan Dalam Perdebatan

Kata analogis adalah kata kiasan belaka, kita berusaha menyamakan sutu barang dengan sifat barang lainnya. Suatu missal, manusia mengerti dan binatang pun mengerti, tetapi mengertinya binatang dan mengertinya manusia adalah sangat jauh berbeda bila ada tidak jelih dengan arti tersebut tentu anda akan didebat orang lain kalau anda menyamakan bahwa manusia dan binatang sama – sama mempunyai pengertian berarti kedua mahluk itu juga sama artinya.

Anda tentu sependapat bahwa tuhan itu ada. Manusia juga ada, tumbuhan ada juga. Tetapi arti ada disini jangan disamakan, manusia ada dan jangan dilihat, begitu juga binatang dan tumbuhan tetapi adanya tuhan adalah abtraksi jadi, bila kita menggunkan kata – kata yang analogis maka tak akan dapat kita menarik kesimpulan.

Harimau sering juga mendapat sebutan yang istimewah. Banyak orang yang mengatakan dengan kata raja hutan, disamakan dengan sebutan seseorang yang memimpin Negara, tetapi apakah begitu halnya dengan harimau? Tentu tidak karena dalam hutan tidak ada kerajaan dan harimau tak mungkin bisa memimpin dan memerintah semua binatang yang ada ditempat itu.

Jadi perbandingan atau analogis bukanlah dasar yang kuat untuk suatu pembuktian, sebab dari kesamaan sesuatu atau beberapa sifat belum tentu dapat disimpulkan kesamaan dalam sifat lain.

Akan tetapi, untuk menjelaskan hal-hal yang agak sukar, maka sebaliknya anda sertai dengan contoh – contoh dan perbandingan – perbandingan itu masuk diakal.yang terpenting disini adalah contoh dan perbandingan-perbandingan itu ada kesamaan sifatnya. Misalnya anda katakana bahwah “ Pikiran murid-murid itu diisi dengan bermacam-macam ilmu” maka kita bisa menilai bahwah pikiran manusia itu tak ubahnya bagaikan bak yang diisi dengan air.jika kita berhenti mengisi air maka bak itu tidak akan penuh dan kita telah terus menerus menuangkannya kesana maka air itu akan tumpah.dari contoh dan perbandingan itulah dapat kita jadikan untuk menarik suatu kesimpulan atau pembuktian.

  1. 4. Nilai Rasa Dan Kata – Kata Emosional

Mungkin anda pernah menjumpai kata bahwa “ Ada seorang ekstrims ditembak mati

Oleh aparat pemerintah”. Kalimat diatas mengandung kemungkinan bahwah nilai parasaan. Mungkin kita menafsirkan bahwa karena melanggar aturan pemerintah yang berlaku maka orang itu ditembak mati. Akan tetapi lain halnya dengan pemikiran orang lain yang simpatik terhadap orang tersebut. Mungkin karena akan berpendapat bahwa teman ditembak mati karena berjuang menegakkan keadilan, memperjuangkan rakyat yang tertindas oleh kaum penguasa.

Misalnya sifat “Tidak mudah dipengarui oleh orang lain”  dapat dilukiskan bahwa dia sudah cukup umur dan bersifat dewasa. Akan dapat juga diartikan dungu dank eras kepala karena menutup diri dari saran – saran orang lain.

Itulah sebabnya maka banyak orang yang belajar berbahasa dengan tepat. Memang bahasa adalah alat interkomunikasi manusia, tanpa bahasa mungkin kita sangat sulit berhubungan dengan lainnya. Kata – kata yang kita ucapkan bukan saja sebagai penunkukan barang atau fakta – fakta yang konkrit, tetapi dapat juga melukiskan perasaan manusia, yang disebut dengan nilai rasa.

Untuk  dapat memahami kata nilai rasa, maka kita harus mengerti arti kata atau kiasan – kiasan yang berlaku dalam masyarakat disekitar kiata. Untuk  setiap situasi dan kondisi kita pandai memilih kata yang cocok dengan keadaan atau dengan nilai rasa yang hendak kita nyatakan

Apabila seperti yang ada dalam contoh di atas dilontarkan karena merasa benci, member dukungan, dan sebagainya maka dapat dikatakan kata yang emosional. Kata – kata ini mengerakkan rasa atau perasaan kita bukan karena dorongan akal melainkan perasaan emosional yang meledak – ledak, tanpa mengajak untuk berpikir. Pemakaian kata – kata emosional dapat menghambat diri kita sendiri dalam satu pemikiran, bahkan dapat mengacaukan jalan pikiran dan memustahilkan berpikir sendiri secara obyektif. Sikap emosional adalah menutup  mata terhadap kenyataan,realitas yang ada.

Biasanya orang yang sedang marah atau kalap, maka perbuatannya tanpa dipikirkan secara akal dan nalar. Dia didorong dengan perasaanya (emosionalnya) yang meledak – ledak. Dalam situasi seperti ini akal sudah tidak berperan lagi. Manusia yang marah pasti berpikir tanpa adanya kesadaran dan keseimbngan pikiran yang lurus.akan tetapi pada suatu saat dia akan kecewa dengan perbuatannya yang telah berlangsung.

Maka, orang yang berbahagia dan tentram hidupnya ialah seorang yang setiap langkahnya dipikirkan secara akal, dia melihat kenyataan- kenyataan dirinya, dan menarik kesimpulan dari dua pertimbangan.

Sungguh mustahil jika orang yang hanya mengandaikan emosinya bisa menang dalam perdebatan. Hanya dengan bekal emosi tanpa adanya akal maka pikiran seseorang Akan menjadi simpang siur dan tumpang tindi . berbeda sekali dengan seseorang yang berpikir secara tenang dan diam – diam memutar otaknya, serta menghilangkan rasa emosinya dalam melontarkan gagasan. Maka orang tersebut akan sempurna pikirannya.

  1. 5. Anda Harus Bisa Membedakan Dan Menggolongkan Sesuatu Hal.

Kenyataan yang ada di dunia ini banyak ragamnya. Kita melihat banyak hal- hal yang bermacam – macam yang terdapat disekitar kiat. Tetapi didalam kebanyakan ragaman itu budi serta naluri kita masih dapat melihat aturan-aturan yang ada.akal masih dapat membagi –  bagi , mengolong-golongkan dan menyusun pengertian – pengertian serta barang- barang menurut kesamaan dan perbedaannya.

Manusia dilengkapi dengan akal dan pikiran sesungguhnya adalah diperintahkan untk memikirkan apa yang terdapat disekitarnya. Manusia harus mampu menggolongkan mana- mana yang buruk dan yang baik.Bila manusia sudah tidak bisa membedakan antara yang putih dan yang hitam, maka manusia tersebut sudah hilang sifat kemanusiaannya.

Suatu missal anda seorang pengusaha atau seorang pemimpin perusahaan, maka seharusnya anda tau pegawai yang bekerja sepenuh hati dan yang setengah – setengah. Dari pengamatan anda itu lalu anda bisa mengolongkan, si A adalah pekerja yang rajin, dan si B adalah pekerja yang tergolong malas dengan klasifikasi yang teliti maka kemungkinan akan menekan kerugian perusahaan anda.

Demikian juga seorang penjual, dia harus mampu menggolongkan dan membedakan barang-barang yang bermanfaat atau yang laku dan yang tidak laku. Harus mampu menggolongkan harga barng.

Begitu juga dalam ilmu pengetahuan, penggolongan ini dirasa perlu sekali, karena untuk mengupas suatu persoalan kita harus dapat menangkap bagian – bagiannya serta menguraikan unsure – unsurnya. Demikianlah seluruh kenyataan kita golong – golongkan menjadi satu kesatuan yang terperinci, dimana kita melihat dengan jelas kesamaan dan perbedaan- perbedaannya.

Suatu misal, kita ambil contoh barang – barang yang ada disekitar kita seperti logam,kulit,besi, emas, batu, tegal, semen dan lain-lain.semuanya itu dapat kita katagorikan sebagai bemda mati. Tetapi benmda- benda mati itu ada perbedaannya menurut sifat – sifat yang terkandung di dalamnya. Dari benda – benda itu masih kita bedakan menjadi barang atau benda logam, batu dan lain – lain.

Di dalam menggolongkan suatu hal maka yang diperhatikan adalah aturan – aturan yang ada misalnya :

  1. Penggolongan itu harus lengkap. Jika kita menggolongkan suatu hal maka bagian-bagian yang kita pecah – pecah itu harus mencakup semua hal yang ada sehingga bila perinci – perinci yang kita pecah – pecah itu, bila kita kembalikan maka tetap utuh seperti sedia kalah
  2. Penggolongan harus sungguh – sungguh memisahkan, maksudnya ialah bagian yang satu tidak boleh mengndung bagian yang lain, tidak boleh tumpang tindi, golongan – golongan harus dibedakan dengan jelas
  3. Penggolongan harus menurut dasar yang sama, artinya harus konskuen dan tidak memakai dua atau lebih dasar, sekaligus dalam pembagian yang sama.
  4. Penggolongan harus cocok dengan tujuan yang hendak dicapai.

Orang yang tak mau berfikir secara logis tentu menggolongkan suatu hal itu hanya dibagi dua bagian saja.Dia menganggap di dunia ini hanya ada dua macam masalah. Misalnya :  putih  – hitam, hidup – mati, kawan – lawan, baik- buruk, pintar – bodoh dan lain sebagainya. Memang dia telah mempertentangkan suatu hal. Tetapi tidak melihat hal – hal yang terkecil yang masih dapat di dedakan lagi. Sikap inilah yang seharusnya tidak ada dalam pemikiran yang logis.

  1. 6. Anda Harus Dapat Memberikan Pengertian Kepada Orang Lain.

Anda telah dapat berfikir dengan baik, lalu menyatakan pikiran itu kepada orang lain hal ini perlu ada perhatikan ialah bagaimana menjelaskan pikiran ada terhadap mereka menjelaskan suatu masalah dengan memberikan pengertian kepada orang lain.

Pemikiran akan kacau apabila tidak dijelaskan dengan istilah – istilah tertentu maka sering kita jumpai berbagai pertanyaan, apa itu, bagaimana maksudnya, apa batasannya, apa artinya, mengapa demikian dan lain sebagainya.

Menyatakan maksud memang sangat mudah bila apa yang kita jelasakan itu dapat kita tunjukkan. Anak anda mungkin suatu hari bertanya kepada anda apa dan bagimana burung bio, maka tanpa menjelaskan dengan kata – kata kita pun dapat memberikan penjelasan terhadapnya. Anda cukup mengajakannya kekebun binatang dan menunjukan bahwa burung bio adalah seperti itu. Akan tetapi bila anak anda bertannya tentang arti sesuatu hal yang bersifat abtrak dan tidak bisa dilihat barangnya maka anda akan kesulitan untuk menerangkannya.

Bagaimana bila anak anda bertanya tentang batasan kesediahan ? tentu anda sukar menjelaskan bukan? Nah, itulah pentingnya seseorang mempelajarai ilmu berfikir secara nalar, serta pentingnya bahasa dan perbandingan suatu hal.

Dalam hal tersebut diatas, maka untuk pertama akan kita coba menjelaskan pada si anak dengan cara membandingkan antara kesdihan dan kegembiraan namun bila anak itu masih belum puas dengan jawaban tersebut maka terpaksa kita jelaskan dengan memilih kata – kata yang dapat untuk menerangkan anti kesedihan itu dengan tepat dan jelas.

Maka, tak ada, kesulitan kiranya bila seseorang telah bisa berfikir secara logika, menggunakan akal. Berfikir secara sempurna akan dapat membantu keberhasilan dalam hidup anda.

BAB III

PENUTUP

  1. 1. Komentar

Menurut saya cara berfikir secara logis ini sangat baik apabila bisa diterapkan dalam kehidupan sehari – hari pastinya orang bisa berfikir secara logis dan bisa berfikir nalar adalah melihat diri sendiri berfikir tentang menarik akibat dan menarik kesimpulan. Janganlah berfikir dengan emosi, karena keinginan yang membara maka anda tidak melihat sisi yang lain. Itulah sebabnya, mengapa seseorang yang telah berhasil kemudian tiba – tiba mengalami depresi yang hebat, mengalami kemerosotan kekayaan bahkan depresi jiwapun akan terpengaruh juga. Oleh karena itu sangatlah penting mempelajari cara berfikir secara logis.

  1. 2. Penutup

Demikian makalah ini kami buat semoga bisa menjadi bahan rujukan atau sebagai bahan batu, didalam ini pastilah banyak kekurangan untuk itu kami mohon saran serta kritiknya yang bisa membangun, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah semata. Semoga bermanfaat… Amin.

Jepara,     Juli 2009

Penulis.

profil MTs Al – Hidayah

PROFIL SEKOLAH

Tahun Pelajaran 2009/2010

1. Nama Sekolah : MTs Al – Hidayah Langon Status : Swasta

2. Alamat Jalan : Jl. Sultan Hadlirin Km. 3 Desa : Langon

Kecamatan : Tahunan Kabupaten : Jepara 59426

No. Telp : (0291) 598810 HP : 081325718914

3. No. Rekening Bank Jateng : 1-015-03191-5 (Bank BPD Jateng Cabang Jepara)

4. Nama Yayasan : Yayasan Pendidikan Islam Al – Hidayah

5. Alamat : Jl. Sultan Hadlirin Km. 3 Desa Langon Kecamatan

Tahunan Kabupaten Jepara 59426 HP. 08112710127

6. NSS/NPSN : 212332008071 / 20318647

7. Jenjang Akreditasi : B

8. Tahun didirikan : 1996

9. Tahun Beroprasi : 1997

Makalah

MAKALAH

TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Teknologi Pendidikan

DOSEN PENGAMPU Saifurrohman, S.Ag., M.Pd.

inisnu

DISUSUN OLEH :

1. M. Ni’amir Rohman

2. Asfihana

3. Aulia Hana

4. Nur Rif’atun

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT ISLAM NAHDLATUL ULAMA’

JEPARA 2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Komunikasi dalam suatu pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting, yang tidak mungkin ditinggalkan, untuk mencapai tujuan- tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan oleh guru untuk mata pelajaran tertentu yang di pegangnya. Komunikasi merupakan salah saru faktor yang sangat dominan dalam suatu kegiatan pembelajaran bersama, karena dapat di katakan bahwa, baik tidaknya suatu proses pembelajaran bersama, hidup tidaknya suasana kelas, kenyamanan dan keikutsertaan yang aktif dari tiap siswi, semua itu sangat ditentukan oleh baik tidaknya penguasaan dan keahlian berkomunikasi seorang guru dan sisiwanya. Untuk itu, seorang guru seharusnya menguasai Ilmu Komunikasi secara utuh untuk meningkatkan pengajaran kelas yang dimilikinya dan dapat menghidupkan situasi pembelajaran yang nyaman, fokus, terarah, dan tepat pada sasaran atau tujuan- tujuan dalam suatu pembelajaran.

B. Rumuan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat kita rumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Apa komponen- komponen yang terdapat dalam suatu Komunikasi di dalam suatu pembelajaran ?

2. Apa macam- macam Komunikasi dalam suatu pembelajaran ?

3. Apa hambatan- hambatan yang mungkin terjadi saat proses Komunikasi dalam suatu pembelajaran sedang berlangsung ?

4. Bagaimana cara mempraktikan macam- macam Komunikasi dalam suatu proses pembelajaran bersama ?

BAB II

TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Komponen Komunikasi dalam Pembelajaran

Sebelum kita mempelajari komponen- komponen Komunikasi dalam suatu pembelajaran, terlebih dahulu kita harus memahami pengertian dan hakekat komunikasi itu sendiri. Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil, apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak, si pengirim dan si penerima informasi dapat memahaminya. Hal itu tidak berarti bahwa kedua belah pihak harus menyetujui suatu gagasan tersebut, tetapi yang penting adalah kedua belah pihak sama- sama memahami gagasan tersebut. Dalam keadaan seperti inilah baru baru dapat dikatakan Komunikasi telah berhasil dengan baik ( Komunikatif ). Dari pengertian diatas dapat kita pahami bahwa Komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses sosial yaitu sesuatu yang berlangsung atau berjalan antar manusia.[1]

Beberapa pakar dalam ilmu Komunikasi membagi komponen- komponen ini tidaklah begitu seragam, biarpun demikian sama saja makna yang dikandungnya yaitu ada pengirim, pesan dan penerima. Menurut Prof. Drs. Onong Uchjana Efendi, MA. Komponen- komponen dalam komunikasi, terutama dalam proses pembelajaran, ada 5 yaitu :[2]

1. Komunikator, yang dimaksud komunikator disini adalah guru, walaupun banar pada setiap saat dan kondisi apapun, siswa atau siapapun dapat memposisikan diri sebagai komuikator, tetapi dalam suatu pmbelajaran bersama, komunikator utamanya adalah pengajar. Dan untuk menjadi komunikator yang baik, pengajar harus memperhatikan beberapa hal yaitu :[3]

a. Penampilan seorang pengajar harus sesuai tata krama, memperhatikan keadaan, waktu dan tempat ( ketupat ), Self Confident dan mempunyai sikap yang baik pada setiap pelajar.

b. Penguasaan masalah secara menyeluruh dan mendalam, yang diharapkan juga mengetahui pengetahuan yang berkaitan dengan materi atau bahan agar pembelajaran fokus dan tidak membias.

c. Penguasaan Bahasa, maksudnya bahasa komunikasi dari seorang pengajar harus diusahakan jelas, tidak berbelit- belit, positif, mudah dipahami siswa dan didukung penguasaan ketrampilan berkomunikasi yang baik.

Selain itu pengajar dituntut menguasai 4 tahap proses Komunikasi secara menyeluruh yang diharapkan dengan menguasainya, pengajar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu :[4]

a. Fact Finding Yaitu tahap yang dilakukan sebelum berkomunikasi, mencari dan mengumpulkan fakta dan data yang disesuaikan dengan sasaran pembelajaran  ( Indikator ).

b. Planning yaitu membuat perencanaan tentang apa yang akan dilakukan, yang akan dikemukakan, bagaimana, dengan apa, dimana dan kapan.

c. Communicating, dalam berkomunikasi pengajar harus memperhatikan beberapa hal yaitu situasi, sasaran, apa ( bahan atau materi ), bagaimana     ( cara penyampaian ), dengan apa ( alat ), dimana ( tempat proses komunikasi berlangsung ).

d. Evaluation Yaitu Penilaian dan analisi kembali yang diperlukan untuk melihat bagaimana hasil komunikasi tersebut. Ini kemudian menjadi bahan bagi perencanaan melakukan komunikasi selanjutnya.

2. Komunikan, yang dimaksud komunikan disini adalah siswa. Ditinjau dari segi sasarannya atau jumlah siswa, maka komunikasi dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu Komunikasi Perseorangan ( Personal Communication ) dan Komunikasi Kelompok ( Group Communication ).[5]Pada umumnya proses pembelajaran dikelas dilakukan secara    face- to- face. Saat itulah seorang pengajar dituntut mahir dalam menerapkan berbagai macam komunikasi baik group Communication maupun personal Communication, baik komunikasi searah maunpun komunikasi dua arah.

Secara teoritis, setiap orang sebelum melakukan Intercommunication, maka ia akan melakukan Intercommunication yang terdiri atas 3 proses yaitu :

Perception             Ideation              Transmission,yang gambarannya sebagai berikut : Seorang pelajar saat melihat obyek, maka ia akan melakukan Perception yaitu pengindraan terhadap suatu obyek, yang kemudian dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan dan kebutuhan. Kemudian pengalaman, pengetahuan itu diseleksi sehingga membentuk suatu konsep yang dianggap relevan atau sesuai (Ideation). Setelah itu ditransmisikan yaitu hasil konsepsi karya penalaran tadi dilontarkan atau diungkapkan lewat mulut. Oleh karena itu, semakin sering Intracommunication ini dilatih, maka Intracommunication akan semakin hebat, mantap, meyakini, sistematis dan logis.[6]

3. Pesan yaitu kesekluruhan dari apa yang disampaikan komunikator. Setiap pesan umumnya mempunyai inti ( Tema ) pokok. Pesan dalam suatu proses pembelajaran adalah pengetaahuan, yang dengan memahaminya, mempraktekannya sampai membiasakannya, diharapkan terjadi perubahan pada diri siswa kearah yang positif, serta diharapkan siswa mampu menggali dan memanfaatkan segala petensi dalam diri agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain dimanapun dan kapanpun ia berada.

Seorang pengajar harus berusaha membuat siswa mampu memahami dan menguasai inti dari pesan yang disampaikan. Oleh karena itu pesan harus disampaikan leway bahasa Komunikasi yang jelas, sederhana, tidak berbelit- belit, mudah dipahami sehingga tidak terjadi biar atau kekaburan. Bentuk pesan yang disampaikan kepada siswa yaitu informatif, persuasif ( bujukan ), dan koersif. Dalam penyampaian pesan, pengajar dituntut harus mahir menggunakan berbagai bentuk pesan jangan sampai membuat siswa merasa jenuh, minder terutama lagi sampai tidak termotivasi, terlebih lagi bentuk yang terakhir bersifat memaksa dengan sanksi apabila tidak dilaksanakan.

4. Media

Kata Media berasal dari bahasa latin yang berarti perantara.[7] Jadi segala yang menjadi perantara disampaikannya suatu pengetahuan dapat disebut media termasuk dari pengajar, alat dan teknologi sebagaimana telah dibahas.

Dalam suatu pembelajaran pengajar boleh menggunakan berbagai macam media asalkan sesuai dengan tujuan pembelajaran, tepat guna, ada dan sesuai dengan kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan pengajar serta sesuai dengan tingkat kematangan siswa. Media yang baik adalah media yang dapat membuat fokus dalam penguasaan materi tanpa perasaan dipaksa atau ditekan. Jadi media yang baik adalah media yang dapat membantu menghidupkan suasana kelas, membuat siswa lebih aktif dan senang serta termotifasi.

Penelitian terakhir tentang kemampuan otak pikiran, New York, 1991, menunjukan bahwa fokus perhatian berlangsung amat singkat antara 5-7 menit, tergantung masalah dan tingkat minat kita terhadap masalah tersebut, pikiran kita bekerja paling baik saat berlangsungnya letupan energi singkat ini.[8]

Untuk itu, pengajar sangat diharapkan mampu dan terampil didalam memetakan “ Peta Kognitif “ di benak setiap siswa dalam waktu yang relatif singkat tersebut agar siswa mampu menguasai materi minimal materi pokok pembelajaran saat itu.

5. Eject Yaitu hasil akhir dari suatu komunikasi.[9] Untuk mengatasi besar kecilnya efek yang didapat setelah melakukan komunikasi dalam suatu pembelajaran, dapat diketahui lewat 2 cara yaitu Opini dan Evaluasi.

B. Macam- Macam Komunikasi dalam Pembelajaran

R. I. Sukartin Cetrobroto membedakan macam- macam komunikasi, sebagai berikut :[10]

1. Menurut lawan komunikasi

a. Satu lawan satu ( Privat Communication )

b. Satu lawan banyak atau banyak lawan satu atau banyak lawan banyak ( Public Communication )

2. Menurut jumlah yang dijadikan sasaran komunikasi

a. Personal Communication

b. Group Communication

3. Menurut cara penyampaian

a. Komunikasi Lesan

b. Komunukasi Tertulis

c. Komunikasi Langsung

d. Komunikasi Tak Langsung

e. Komunikasi Searah

f. Komunikasi Dua Arah

g. Komunikasi Gabungan

C. Hambatan- Hambatan Komunikasi dalam Pembelajaran[11]

1. Hambatan Bahasa

Pengajar tidak dianjurkan menggunakan berbagai macam istilah sekiranya hal itu menyebabkan sulitnya materi dipahami. Tetapi dalam suatu diskusi pengembangan, penggunaan istilah malah sangat dianjurkan karena selain memperkaya pengetahuan juga melatih pemahaman dan penguasaan berbagai istilah. Untuk meminimalisir hambatan ini, pengajar harus memahami kemampuan- kemampuan yang telah dimiliki siswa termasuk tingkat kematangan siswa.

2. Hambatan Teknis

Pesan bisa menjadi tidak utuh diterima siswa manakala ada gangguan teknis. Misalnya suara tak jelas atau tak sampai karena pengeras rusak, kurang ahlinya pengajar dalam menggunakan media sehingga pengajaran tetap kaku dan kurang hidup.

3. Kurangnya pengetahuan atau isi pesan berlebihan

4. Kurang cakap dalam berkomunikasi

5. Adanya faktor kebisingan

6. Bersifat satu arah

7. Terganggunya psikologis atau kesehatan, dan lain sebagainya

D. Mempraktekan macam- macam komunikasi

Macam- macam komunikasi dapat kita praktekan dalam beberapa ketrampilan dasar mengajar [12] yang harus dikuasai dan dilatih oleh para pengajar agar pengajarannya meningkat dan lebih baik diantaranya adalah:

1. Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran

Ketrmpilan ini dapat kita lakukan lewat ( T ) Tarik minat dan perhatian siswa, kemudian ( M ) Moyifasi mereka, kemudian ( A ) Acuan diberikan, ( K ) Kaitkan antara topik yang sudah dikuasai dengan yang baru, dan ( T ) Tanggap situasi kelas.

2. Ketrampilan menjelaskan

Ketrampilan ini dapat dilakukan dengan komunikasi searah, dengan cara ( P ) Peta kognitif kemudian ( H ) Hubungan dan terangkan.

3. Ketrampilan bertanya dan penguatan

Ketrampilan ini dapat dilakukan dengan komunikasi dua arah dengan berpegang pada ( H ) Hargai jawaban mereka dan ( JR ) Jangan meRendahkan mereka apalagi dihadapan teman- teman mereka.

4. Ketrampilan menggunakan variasi

Untuk menerapkan ketrampilan ini secara optimal, kita dapat menggunakan  ( G ) Gerak, ( S ) Suara dan ( M ) diaM. Kita dapat melakukannya dengan variasi- variasi tertentu menurut kebutuhan.

5. Ketrampilan mengaktifkan belajar siswa

Untuk mengaktifkan belajar siswa, pengajar harus benar- benar (A) Aktif dan  ( PEK ) PEka terhadap situasi Kondisi kelas saat pembelajaran. Penerapan ketrampilan ini membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi ( High Selfconfident ) dan kecakapan dalam berkomunikasi, selain itu kepandaian dalam pengorganisasian kelompok belajar- belajar untuk mengaktifkan belajar siswa juga sangat dibutuhkan oleh para pengajar.

BAB III

KESIMPULAN

1. Komponen- komponen komunikasi dalam pembelajaran meliputi pengajar, pelajar, media, pesan dan efect.

2. Pembagian macam- macam komunikasi dalam suatu pembelajaran dapat dilihat dari berbagai segi baik dari jumlah komunikator atau komunikannya, baik personal maupun group, dengan lesan atau tulisan, baik langsung ataupun tak langsung serta searah ataupun dua arah.

3. Hambatan- hambatan komunikasi dalam suatu pembelajaran diantaranya yaitu hambatan bahasa, hambatan teknis, hambatan dari diri, orang lain maupun alam.

4. Mempraktekan macam- macam komunikasi dapat lewat ketrampilan- ketrampilan dasar mengajar yang kita terapkan disituasi kondisi  kelas yang nyata dan pengembangan dan penguasaannya dapat dilatih lewat microteaching.

BAB IV

PENUTUP

Pembahasan tentang Komunikasi diatas, walaupun baru selintas batas pengenalan dan pembahasan teori, semoga bermanfaat bagi kita semua terutama penyusun. Semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan dan pertolongan kepada kita didalam mengarungi kehidupan ini dan menjadikan kita pendidik yang handal, profesional dan harum nama baiknya. Amin………….

DAFTAR PUSTAKA

Marno, M. Pd. , dkk, Strategi dan Metode Pengajaran, Jogjakarta : Ar- Ruzz Media, 2009.

H.A.W.Widjaja,Prof. Drs., Ilmu Komunikasi Pengantar Studi Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000.

Onong Uchjana Efendi, Prof. Drs., Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek,Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992.

Pupuh Fathurrohman,Prof.,dkk., Strategi Belajar Mengajar Bandung: Refika Aditama, 2007.

Wycoff, Joyce, MBA., Menjadi Super Kreatif Melalui Metode Pemetaan- Pikiran ,Bandung : PT. Kaifa, 2003.


[1] Prof. Drs. H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000 ), hal. 89

[2] Prof. Drs. Onong Uchjana Efendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), hal.6

[3] Prof. Drs. H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000 ), hal. 31

[4] Ibid. hal. 39

[5] Ibid. hal. 63

[6] Prof. Drs. Onong Uchjana Efendi, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), hal.102-103

[7] Prof. Pupuh Fathurrohman M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar ( Bandung : Refika Aditama, 2007 ), hal. 65

[8] Joyce Wycoff, Menjadi Super Kreatif Melalui  Metode Pemetaan- Pikiran ( Bandung : PT. Kaifa, 2003 ), hal.64

[9] Prof. Drs. H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi Pengantar Studi ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2000 ), hal. 38

[10] Ibid. hal. 63

[11] Ibid. hal. 34-35, 68-70

[12] Marno, M. Pd. , dkk, Strategi dan Metode Pengajaran, Jogjakarta : Ar- Ruzz Media, 2009, hal. 65- 66, 75-151

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!